Indonesia adalah negara agraris dengan jumlah total lahan produktif mencapai ratusan juta hektar. sekitar 70% penduduknyapun sangat bergantung kepada kegiatan di bidang pertanian tersebut. Sejarah pertanian intensif sebenarnya dimulai pada tahun 1969 setelah era kepemimpinan orde baru yang terkenal dengan program Bimas dan Inmasnya. Intensifikasi Massal di bidang pertanian memperkenalkan program baru kepada petani yang terkenal dengan Panca Usaha Tani yakni : Pengolahan tanah yang baik, Penyediaan bibit unggul, Pemupukan Anorganik Kimiawi, Pengendalian Hama & Penyakit dengan racun Kimia, dan penanganan Pasca Panen.
Maka di periode tahun 70-an terjadilah revolusi hijau di bidang pertanian. Produktifitas melonjak pesat, usia budidaya semakin pendek. Alhasil pada era 80-an, tepatnya tahun 1986 akhirnya Indonesia mencapai swasembada pangan. Tetapi tanpa disadari timbul efek negatif dari keberhasilan “semu” tersebut, yakni :
Pertama, pemakaian pupuk kimia yang intensif ternyata memunculkan problema terhadap tanah dimana ternyata tanah mengalami pengerasan akibat penumpukan sisa-sisa unsur yang ditinggalkan pupuk kimia yang tidak habis terserap tanaman. Akibatnya tanah tersebut sulit terurai dan respon pemupukan semakin rendah. Kita tahu akhirnya saat ini terjadi laju penurunan produksi. disisi lain kebiasaan memupuk dengan kotoran hewan dan kompos mulai ditinggalkan petani Indonesia. Akibatnya unsur Mikro yang sangat kaya dikandung pupuk Organik tersebut makin lama makin miskin di lahan pertanian. Terjadilah ketidakseimbangan yang mengakibatkan muncul banyak problema baru di bidang budidaya.
Kedua, Pemberantasan Hama & Penyakit dengan bahan-bahan Racun yang keras dan amat mematikan tersebut memunculkan problema baru yakni : terjadinya Resistensi atau kekebalan bagi hama-hama tertentu, Musnahnya musuh alami, terjadinya resurjensi atau ledakan hama sekunder akibat musnahnya predator atau musuh alami dari hama tersebut. Konsumsi pupuk kimia yang semakin tinggi karena tuntutan dosis yang semakin tinggi memunculkan krisis pupuk kimia. Dalam kondisi seperti itu muncullah para spekulan yang menimbun pupuk yang berakibat harga pupuk kimia terutama Urea saat ini menjadi sangat mahal di masyarakat. Inilah lingkaran setan yang dihadapi petani Indonesia saat ini.
Minggu, 28 Juni 2009
Langganan:
Komentar (Atom)
